Sabtu, 10 Desember 2011

Susu Kambing Penolong Bayi Alergi Susu Sapi


Susu kambing banyak direkomendasikan sebagai bahan substitusi bagi bayi, anak,
dan orang dewasa yang alergi terhadap susu sapi ataupun berbagai jenis makanan
lainnya. Pada bayi, alergi terhadap susu sapi (cow milk allergy) banyak
dijumpai, akan tetapi mekanisme terjadinya alergi masih belum jelas. Bagi bayi
yang alergi terhadap susu sapi jika diberikan susu sapi terus-menerus akan
menyebabkan reaksi pembesaran lamina propia dan peningkatan permeabilitas
molekur makro dan aktivitas elektrogenik lapisan epitel.

Gejala klinis seperti ini akan hilang jika bayi tersebut diberikan makanan bebas
susu sapi. Jadi, potensi susu kambing sebagai pengganti susu sapi pada bayi
ataupun pasien yang alergi terhadap susu sapi sangatlah besar.

Gejala alergi terhadap protein susu biasanya timbul pada bayi yang berumur dua
sampai empat minggu, dan gejalanya akan semakin jelas pada saat bayi berumur
enam bulan. Bagian tubuh yang terserang alergi ini adalah saluran pencernaan,
saluran pernapasan, dan kulit.

Gejala-gejala yang tampak akibat alergi terhadap protein susu di antaranya
muntah, diare, penyerapan nutrisi yang kurang sempurna, asma, bronkitis, migren,
dan hipersensitif.

Gejala patologis yang terlihat pada bayi yang alergi terhadap susu sapi di
antaranya iritasi usus halus, lambat pertambahan bobot badannya, volume feces
yang berlebihan, dan bau yang khas. Akan tetapi, perlu diingat bahwa sering kali
gejala ini dicampuradukkan dengan gejala tidak tolerannya seseorang terhadap
laktose (lactose intolerance).

Kelebihan susu kambing
Susu kambing dilaporkan telah banyak digunakan sebagai susu pengganti susu sapi
ataupun bahan pembuatan makanan bagi bayi-bayi yang alergi terhadap susu sapi.
Alergi pada saluran pencernakan bayi dilaporkan dapat berangsur-angsur
disembuhkan setelah diberi susu kambing.
Dilaporkan bahwa sekitar 40 persen pasien yang alergi terhadap protein susu sapi
memiliki toleransi yang baik terhadap susu kambing. Pasien tersebut kemungkinan
besar sensitif terhadap lactoglobulin yang terkandung pada susu bangsa sapi
tertentu.Diduga protein susu (-lactogloglobulin yang paling bertanggung jawab
terhadap kejadian alergi protein susu.Susu kedelai sering pula digunakan sebagai
salah satu alternatif pengganti susu sapi bagi bayi yang alergi terhadap susu
sapi.

Walaupun demikian, masih terdapat sekitar 20 persen-50 persen dari bayi-bayi
yang diteliti memperlihatkan gejala tidak toleran terhadap susu kedelai. Oleh
sebab itu, susu kambing bubuk lebih direkomendasikan untuk susu bayi. Panas yang
digunakan selama proses pengolahan susu mengurangi reaksi alergi.

Denaturasi panas merubah struktur dasar protein dengan cara menurunkan tingkatan
alerginya.

Susu kambing mengandung lebih banyak asam lemak berantai pendek dan sedang
(C4:0-C12:0) jika dibandingkan dengan susu sapi. Perbedaan ini diduga
menyebabkan susu kambing lebih mudah dicerna. Ukuran butiran lemak susu kambing
lebih kecil jika dibandingkan dengan susu sapi atau susu lainnya.

Sebagai gambaran ukuran butiran lemak susu kambing, sapi, kerbau, dan domba
bertutur-turut adalah: 3,49, 4,55, 5,92, dan 3,30 mm.

Dari hasil penelitian Mack pada tahun 1953 disimpulkan bahwa kelompok anak yang
diberi susu kambing memiliki bobot badan, mineralisasi kerangka, kepadatan
tulang, vitamin A plasma darah, kalsium, tiamin, riboflavin, niacin, dan
konsentrasi hemogloninnya yang lebih tinggi jika dibandingkan dengan kelompok
anak yang diberi susu sapi. Disamping itu, susu kambing memiliki kapasitas bufer
yang lebih baik, sehingga bermanfaat bagi penderita gangguan pencernaan.

Kandungan folic acid dan Vitamin B12 yang rendah merupakan kelemahan susu
kambing. Selain kelemahan ini, susu kambing dapat dikatakan merupakan makanan
yang sempurna. Komposisi dan struktur lemak susu kambing dan sapi memiliki
perbedaan. Butiran lemak susu kambing berukuran 2 mikrometer, sementara lemak
susu sapi berukuran 2,5 - 3,5 mikrometer.

Dengan ukuran lemak lebih kecil, susu kambing lebih cepat terdispersi dan
campurannya lebih homogen (merata). Susu sapi dibuat homogen dengan perlakuan
mekanis. hal itu menyebabkan ikatan lemak susu sapi dipecahkan dan enzim yang
terikat di dalamnya, oksida santin (xanthine oxidase) memasuki dinding pembuluh
darah dan ikut dalam aliran darah. Enzim itu dapat memengaruhi jantung dan
saluran arteri.

Akibatnya, tubuh dirangsang melepaskan kolesterol ke dalam darah sebagai bentuk
pertahanan terhadap materi lemak. Kejadian itu dapat menyebabkan
arteriosklerosis (pengapuran pembuluh nadi). Akan lain kejadiannya jika susu
sapi tetap dalam kondisi alami yaitu tidak homogen (unhomogenized). Dengan
demikian enzim oksida santin tidak terurai dan dikeluarkan dari tubuh tanpa
diserap.

Perbedaan lain adalah susu sapi memiliki banyak lemak dengan rantai asam lemak
pendek. Lantas kandungan eter gliserol (glycerol ethers) pada susu kambing jauh
lebih banyak dibandingkan susu sapi. Kandungan unsur itu sangat bermanfat bagi
bayi dibandingkan susu formula asal sapi.

Susu kambing juga mengandung lebih sedikit asam orotic yang akan berpengaruh
baik bagi pencegahan sindrom pelemakan hati. Baik susu sapi dan susu kambing
memiliki tingkat keasaman dengan pH antara 6,4 - 6,7. Kandungan protein susu
kambing dan sapi relatif sama, meski unsur (alfa-s-1-) kasein pada susu sapi
tidak ada pada susu kambing. Sementara vitamin A susu kambing lebih banyak,
demikian pula dengan Vitamin B, terutama riboflavin dan niacin, meski harus
diakui kandungan vitamin B6 dan B12 pada susu sapi jauh lebih banyak. Susu
kambing juga kaya kandungan mineral, kalsium, potasium, magnesium, fosfor,
klorin dan mangan. Kandungan unsur sodium, besi, sulfur, seng dan molibdenum
lebih rendah.

Kandungan enzim ribonuklease, alkaline phosphatase, lipase dan xanthine oxidase
pada susu kambing juga lebih rendah.

Memang, susu kambing tidak akan pernah menggantikan kesuksesan komersial susu
sapi. Tapi susu kambing sangat bermanfaat sebagai pangan alternatif pada
anak-anak, penderita sakit karena sifatnya mudah dicerna.

Susu kambing juga bisa diolah menjadi berbagai produk, mulai dari minuman,
makanan hingga kosmetika. Campuran susu kambing, minyak olive, kelapa, kedelai,
bubuk cokelat dan sodium hidroksida merupakan bahan sabun yang lembut, sekaligus
menjaga kelembaban kulit.

Susu kambing juga menjadi bahan pembuatan cairan pelembab (lotion), lipstik dan
garam untuk mandi.

Dibandingkan sabun biasa yang menyebabkan kulit kering, susu kambing yang
diproses menjadi sabun secara manual pada suhu dingin bisa mempertahan kandungan
alami gliserin yang baik bagi kulit. Bagi penderita eksim, jerawat atau kulit
peka, sabun dari bahan susu kambing bisa membantu mengatasi persoalannya.

(Dr Ir Ronny Rachman Noor MRur Sc Laboratorium Pemuliaan dan Genetika Ternak
Fakultas Peternakan Institut Pertanian Bogor.
)


Goat Milk Powder (Susu Kambing Bubuk)

Susu kambing mempunyai sifat antiseptik alami dan bisa membantu menekan pembiakan bakteri dalam tubuh. Bersifat basa (alkaline food) sehingga aman bagi tubuh. Proteinnya lembut dan efek laktasenya ringan, sehingga tidak menyebabkan diare. Lemaknya mudah dicerna karena mempunyai teksture yang lembut dan halus serta lebih kecil jika dibandingkan dengan lemak susu sapi atau susu lainnya. Dan juga bersifat homogen alami. Hal ini mempermudah untuk dicerna sehingga menekan timbulnya reaksi-reaksi alergi.
Komposisi : susu kambing bubuk, krim dan madu.
Isi : 10 sachet @ 25 gr.

Saran Penyajian :
Tuangkan 1 sachet susu ke dalam 1 cangkir (150 cc) air panas, aduk hingga larut sempurna berlawanan arah jarum jam dan sebaiknya diminum selagi hangat. Minumlah susu kambing 2 cangkir sehari untuk menjaga kesehatan. Harga Anggota : Rp. 60.000,-
Nilai Mata : Rp. 10.000,-
Harga Konsumen : Rp. 74.000,-



Tidak ada komentar:

Posting Komentar