"Masya Allah... Cantiknyaaa...!" Aku kaget dan menoleh ke sumber suara.
Aya, putriku yang belum genap 3 tahun tiba-tiba muncul di pintu.
"Jilbab balu ya Mi?"
Aku nyengir. Aku hanya mencoba jilbab baru yang dipesan oleh adikku, sebelum dikirim.
"Iya, bukan milik ummi kok... Ini jilbab Ayuk Ila. Ummi ngepasin aja."
Dia menghampiriku yang masih berdiri di depan cermin.
"Subhanallaaahhh, cantiknyaaa..."
Aku nyengir lagi. Tahu apa anak usia 2 tahunan ini tentang cantik. Hehe...
"Masa sih cantik?" Aku menggodanya.
Dia mengangguk kuat-kuat. "Iyya, cantik!"
"Terima kasih ya Kak," Aku melepas jilbab yang tadi kupakai. Dia hanya memandangiku.
Lalu...
"Ummi, kalau aku, cantik tidak?"
Aku tersenyum lebar.
"Tentu saja. Kakak cantik, pintar, sholihah, baik dan sayang sama adik."
Aku memujinya. Berharap bisa menemukan pendar di matanya seperti biasa kalau dia tengah bahagia. Lalu senyum manisnya akan merekah. Senyum yang selalu membuatku betah berada dekatnya.
Dia menggeleng, "Kakak tidak cantik Ummi."
Aku terkesiap, "Lho kenapa? Kata siapa?"
"Kan kakak tidak pakai jilbab..."
Aku menepuk jidatku. Ingin rasanya tertawa keras-keras. Jadi cantik versi putriku ini adalah kalau perempuan itu memakai jilbab. Kalau tidak pakai jilbab ya tidak cantik...
Karsuli Okt 2011
Kita hampir tidak bisa melepaskan diri dari produk-produk yang tidak halal. Padahal jika keimanan kita benar, akan tumbuh kesadaran tentang halal-haramnya makanan, termasuk dalam hal ini metode pengobatan. Blog ini berusaha berbagi tentang masalah kesehatan dan solusinya secara Islami. Ahlan wa sahlan..
Tampilkan postingan dengan label pernik. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label pernik. Tampilkan semua postingan
Sabtu, 22 Oktober 2011
Ummi, ini apa namanya?
Aya, putri pertama saya usianya 2 tahun 8 bulan. Seperti anak-anak sebayanya, selalu bereksplorasi dengan lingkungannya. Seperti sore itu ketika saya memandikan adiknya, Umar yang baru berusia 2 bulanan.
"Ummi, ini apa namanya?" Dia menunjuk tonjolan di perut adek. Sepertinya sudah agak lama dia mengamati itu.
"Itu namanya pu-sar" Aku menjawab dengan sedikit tekanan. Sementara tanganku masih sibuk menyabuni badan Umar. Acara memandikan adek selalu jadi kegembiraan mereka. Selain bisa bermain dengan Umar yang anteeeng banget kalau mandi, mereka juga bisa membantu menyipratkan air ke badan Umar. Hemh, main air...ceritanya.
"Kakak juga punya, Mi..." Dia mengangkat bajunya.
"Ya, kakak punya. Dek Umar punya. Dek Irsyad juga punya" Aku membilas badan Umar yang sudah disabuni.
"Ummi, kalau yang ini apa?" Dia menunjuk kelamin Umar.
Hwadduh...menjawab apa ya? Hehehe, garuk-garuk kepala, sambil mutar otak dikit...
Aku tak ingin putriku yang cerdas ini mendapat jawaban yang ngawur hanya karena 'kebodohanku'. Akan lebih parah lagi jika aku memberikan konsep yg salah. Putriku ini daya ingatnya bagus sekali plus teguh pendirian. Dan aku yakin jika konsepnya salah, dia akan sukar 'diluruskan'.
Setelah agak lama, aku menjawab, "Namanya penis." .
Dia menganggukkan kepala dan mengulangi jawabanku dengan gerak bibir yang nyaris tak terbaca.
"Kayak Irsyad, Kakak nggak punya," Dia buka suara.
"Iya, karena kakak perempuan, jadi gak punya yang begini. Kalo dek Umar sama Irsyad kan laki-laki, jadi ada penisnya. " Aku menjelaskan. Dia mengangguk lalu pergi.
***
Jika anda jadi saya, jawaban apa yang akan anda berikan mengingat si penanya adalah seorang batita? Terlebih, benda yang ditanyakan adalah benda yang dianggap tabu di masyarakat kita.
Saya teringat tausiyah Ustadzah Herlini Amran ketika mengisi kajian di Masjid Rindang Garden Batuaji 2 tahun lalu. Waktu itu saya baru punya Aya dan tengah beradaptasi menjadi ibu.
Beliau menekankan bahwa menjawab pertanyaan anak (tentang seks khususnya) tidak boleh bohong, tidak menyesatkan, harus bijak dan disesuaikan dengan usia, kebutuhan dan pemahamannya.
Jika atas pertanyaan si kakak tadi, saya menjawab dengan kata 'burung' bijakkah? Bagaimana nanti jika dia membandingkan dengan burung betulan (merpati, gereja dan jenis-jenis burung lainnya yang sering dia lihat), lalu ada pertanyaan susulan,' kenapa ada burungnya?' atau 'burung kok kayak gitu?' atau lebih parah lagi, jika dia mendengar kata 'burung' yg terbayang dibenaknya adalah benda itu? Hohoho...saya berdosa dong karena menggiring pemahamannya ke sana.
Sudah bijakkah jawaban saya? Saya sendiri tidak tau. Yang jelas, dia mengambil kesimpulan sendiri dan benar. Saya tidak perlu memberikan penjelasan panjang lebar atau berbohong, atau ngawur menyikapi pertanyaannya.
Dan sepertinya dia cukup puas dengan jawaban saya.
Terlebih ketika dia meneriakkan, "Ummi...Ada air mancur!" ketika dek Umar yang belum lengkap pakaiannya pipis, saya merasa dia sudah melupakan pertanyaannya tadi...
Sekarsuli, 170711
"Ummi, ini apa namanya?" Dia menunjuk tonjolan di perut adek. Sepertinya sudah agak lama dia mengamati itu.
"Itu namanya pu-sar" Aku menjawab dengan sedikit tekanan. Sementara tanganku masih sibuk menyabuni badan Umar. Acara memandikan adek selalu jadi kegembiraan mereka. Selain bisa bermain dengan Umar yang anteeeng banget kalau mandi, mereka juga bisa membantu menyipratkan air ke badan Umar. Hemh, main air...ceritanya.
"Kakak juga punya, Mi..." Dia mengangkat bajunya.
"Ya, kakak punya. Dek Umar punya. Dek Irsyad juga punya" Aku membilas badan Umar yang sudah disabuni.
"Ummi, kalau yang ini apa?" Dia menunjuk kelamin Umar.
Hwadduh...menjawab apa ya? Hehehe, garuk-garuk kepala, sambil mutar otak dikit...
Aku tak ingin putriku yang cerdas ini mendapat jawaban yang ngawur hanya karena 'kebodohanku'. Akan lebih parah lagi jika aku memberikan konsep yg salah. Putriku ini daya ingatnya bagus sekali plus teguh pendirian. Dan aku yakin jika konsepnya salah, dia akan sukar 'diluruskan'.
Setelah agak lama, aku menjawab, "Namanya penis." .
Dia menganggukkan kepala dan mengulangi jawabanku dengan gerak bibir yang nyaris tak terbaca.
"Kayak Irsyad, Kakak nggak punya," Dia buka suara.
"Iya, karena kakak perempuan, jadi gak punya yang begini. Kalo dek Umar sama Irsyad kan laki-laki, jadi ada penisnya. " Aku menjelaskan. Dia mengangguk lalu pergi.
***
Jika anda jadi saya, jawaban apa yang akan anda berikan mengingat si penanya adalah seorang batita? Terlebih, benda yang ditanyakan adalah benda yang dianggap tabu di masyarakat kita.
Saya teringat tausiyah Ustadzah Herlini Amran ketika mengisi kajian di Masjid Rindang Garden Batuaji 2 tahun lalu. Waktu itu saya baru punya Aya dan tengah beradaptasi menjadi ibu.
Beliau menekankan bahwa menjawab pertanyaan anak (tentang seks khususnya) tidak boleh bohong, tidak menyesatkan, harus bijak dan disesuaikan dengan usia, kebutuhan dan pemahamannya.
Jika atas pertanyaan si kakak tadi, saya menjawab dengan kata 'burung' bijakkah? Bagaimana nanti jika dia membandingkan dengan burung betulan (merpati, gereja dan jenis-jenis burung lainnya yang sering dia lihat), lalu ada pertanyaan susulan,' kenapa ada burungnya?' atau 'burung kok kayak gitu?' atau lebih parah lagi, jika dia mendengar kata 'burung' yg terbayang dibenaknya adalah benda itu? Hohoho...saya berdosa dong karena menggiring pemahamannya ke sana.
Sudah bijakkah jawaban saya? Saya sendiri tidak tau. Yang jelas, dia mengambil kesimpulan sendiri dan benar. Saya tidak perlu memberikan penjelasan panjang lebar atau berbohong, atau ngawur menyikapi pertanyaannya.
Dan sepertinya dia cukup puas dengan jawaban saya.
Terlebih ketika dia meneriakkan, "Ummi...Ada air mancur!" ketika dek Umar yang belum lengkap pakaiannya pipis, saya merasa dia sudah melupakan pertanyaannya tadi...
Sekarsuli, 170711
Rabu, 22 Desember 2010
Mungkin Karena Dzikirnya
Suatu sore, aku meminta tolong suamiku untuk mengantar ke toko sepatu. sepatu yang lama sudah tak nyaman di kaki. sepatu tua, peninggalan masa gadis yang sudah menemaniku nyaris 4 tahun. apalagi badan sekarang mulai bertambah melar, maka menurutku wajib hukumnya buat ganti sepatu..
Akhirnya sore itu, kami keluar. tentu saja bersama kedua bocah yang selalu setia menemani. setelah sebelumnya sempat silaturrahmi ke rumah teman suami, beliauku itu mengantarku ke sebuah pusat perbelanjaan. mungkin disana ada sepatu yang cocok dengan selera dan kantongku..Cari-cari, ternyata harganya di atas dana yang dianggarkan.. terpaksa putar-putar lagi ke tempat lain.
Saat akan memutar di jalan Adi Sucipto, suamiku menoleh ke belakang, memastikan bahwa tak ada kendaraan lain yang akan memotong jalan, sehingga amanlah kami. Mungkin juga dia ingat kecerewetanku di jalan setiap dia ngojeki aku, bahwa dia membawa banyak nyawa dan harus selalu hati-hati dan seterusnya. Entah bagaimana, saat akan mengambil posisi ke jalur kanan, sebuah motor dikendarai 2 anak cowok tiba-tiba menyalib dengan kencang dan nyaris saja menabrak motor yang kami kendarai. teman2 mereka di motor yang lain juga mengumpat dan ngomel panjang pendek. Innalillahi..Astaghfirullahal adhiim, hanya kata itu yang terlompat dari mulutku. Suamiku tak kalah kagetnya...Tapi beliau tak berkomentar. hanya lebih hati-hati menjalankan motornya memutar... Entah apa yang ada dalam hatinya saat itu...
Irsyad masih tenang lelap digendongan, sementara si kakak, Mazaya masih asyik dengan kerjaannya... Kukira ia bersenandung, karena suaranya nyaris hilang ditelan bising jalanan. lambat-lambat aku membungkukkan badanku, mendekatkan kepalaku ke kepalanya. Subhanallah, anak itu sedang berdzikir...lamat-lamat terdengar ucapan "Subhanallah, Alhamdulillaah, Laailahaillallah, Allahu Akbar walillaahilhamd" tak putus-putus. Aku terperangah... Jadi sepanjang jalan tadi itu yang keluar dari mulutnya?
Sampai di rumah, suami berkata,"hanya karena Allah saja kita bisa selamat". Aku sepakat, tapi aku merasa, Allah menyelamatkan kami karena anak2 itu. Mungkin karena dzikirnya Mazaya, maka Dia melindungi kami...
Akhirnya sore itu, kami keluar. tentu saja bersama kedua bocah yang selalu setia menemani. setelah sebelumnya sempat silaturrahmi ke rumah teman suami, beliauku itu mengantarku ke sebuah pusat perbelanjaan. mungkin disana ada sepatu yang cocok dengan selera dan kantongku..Cari-cari, ternyata harganya di atas dana yang dianggarkan.. terpaksa putar-putar lagi ke tempat lain.
Saat akan memutar di jalan Adi Sucipto, suamiku menoleh ke belakang, memastikan bahwa tak ada kendaraan lain yang akan memotong jalan, sehingga amanlah kami. Mungkin juga dia ingat kecerewetanku di jalan setiap dia ngojeki aku, bahwa dia membawa banyak nyawa dan harus selalu hati-hati dan seterusnya. Entah bagaimana, saat akan mengambil posisi ke jalur kanan, sebuah motor dikendarai 2 anak cowok tiba-tiba menyalib dengan kencang dan nyaris saja menabrak motor yang kami kendarai. teman2 mereka di motor yang lain juga mengumpat dan ngomel panjang pendek. Innalillahi..Astaghfirullahal adhiim, hanya kata itu yang terlompat dari mulutku. Suamiku tak kalah kagetnya...Tapi beliau tak berkomentar. hanya lebih hati-hati menjalankan motornya memutar... Entah apa yang ada dalam hatinya saat itu...
Irsyad masih tenang lelap digendongan, sementara si kakak, Mazaya masih asyik dengan kerjaannya... Kukira ia bersenandung, karena suaranya nyaris hilang ditelan bising jalanan. lambat-lambat aku membungkukkan badanku, mendekatkan kepalaku ke kepalanya. Subhanallah, anak itu sedang berdzikir...lamat-lamat terdengar ucapan "Subhanallah, Alhamdulillaah, Laailahaillallah, Allahu Akbar walillaahilhamd" tak putus-putus. Aku terperangah... Jadi sepanjang jalan tadi itu yang keluar dari mulutnya?
Sampai di rumah, suami berkata,"hanya karena Allah saja kita bisa selamat". Aku sepakat, tapi aku merasa, Allah menyelamatkan kami karena anak2 itu. Mungkin karena dzikirnya Mazaya, maka Dia melindungi kami...
Langganan:
Postingan (Atom)